Kamu,
ya, kamu.
Aku
menyukaimu.
Karena
parasmu, pribadimu, agamamu.
Semoga
karena Allah juga.
Hai,
kamu.
Aku
belum berani mengatakannya langsung padamu.
Tahukah
kamu, betapa sulit menahan rasa ini saat bersamamu?
Berusaha
agar kau tidak mengetahui ini.
Kamu,
aku tak ingin kau ternoda karenaku.
Karenanya,
aku menjaga perasaan ini rapat dalam hati.
Biar
saja aku menikmati suka dukanya.
Karena
aku belum layak menjadi milikmu.
Kamu,
akhir-akhir ini aku berharap pada Tuhan.
Berharap
semoga pemilik tulang rusukku adalah kamu.
Mungkin
salah caraku memintanya.
Tapi
aku hanya ingin kita dapat bersama dalam ridha-Nya.
Mungkin,
suatu saat nanti, aku akan mengatakan perasaanku.
Aku
harus bersiap dahulu menjadi calon pendamping yang baik,
Sebelum
nantinya aku (meminta untuk) menjadi pendampingmu.
Meski
aku tak berani berharap semoga kau menyukaiku.
Kamu,
orang yang (saat ini) kuharapkan menjadi suamiku,
Jika
ternyata perasaanmu tidak sama dengan apa yang aku rasa,
Aku
mungkin akan kecewa, tapi aku (berusaha untuk) tidak membencimu.
Karena
aku sahabatmu, yang akan dengan tulus mencintaimu…
UPT
Perpustakaan
19
April 2012
NB: Ini ceritanya lagi galau tingkat dewa pas lagi belajar buat UTS haha :D
mohon dimaklumi ya, gue biasa nulis puisi atau prosa kalau lagi galau, tentang apapun :)
Komentar
Menjaga kepercayaan orang lain lebih penting daripada membangunnya.,.
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.
sippo~
Posting Komentar