Langsung ke konten utama

Postingan

Diklat Terpusat OSKM 2012~

Assalamu'alaikum, readers! maaf yaa lama nggak nulis dan akhir2 ini tulisannya galau tingkat dewa gitu haha :D soalnya yang lagi kepikiran ya itu #eh jadi, akhirnya setelah 3 minggu berkutat sama spek harian dan segala tugas2, selesai juga diklat terpusat oskm 2012 ini :3 *sorak-sorak jejingkrakan tiup terompeet haha *meskipun sebenernya buat yang dapet panitia lapangan mah bilangnya "diklat belum berakhir~"... yang gue dapet di oskm ini antara lain: 1. Temen ahahai iyaaa kapan lagi dapet temen lintas jurusan :o #eh belagu ceritanya udah penjurusan :D dengan karakter mereka yang beragam. ah gue selalu seneng punya temen baru :) bahkan lintas angkatan, soalnya ada kakak tingkat yang ikut diklat juga, dan cuma beda dua kelompok sama gue :3 dan rata2 mereka bilang kalau gue orangnya semangat. iya yah? diaminin aja deh, berarti kan bagus kalau gue orangnya semangat :) 2. Materi ah ini mah "you don't say" lah yaaa, masa iya gue ikut diklat tap...

Penjurusan ITB 2011

Alhamdulillah, meskipun IP nggak sebagus temen2 lain, gue berhasil masuk jurusan Matematika :') Tapi, kesenangan itu lenyap saat gue mendengar teman2 dekat gue yang, hmm, istilahnya "terlempar" dari Matematika. Ada yang di Kimia, Fisika, ataupun Astronomi. Bukan, bukan berarti gue bilang ketiga jurusan di atas jelek atau apalah, tapi masalahnya di sini adalah bagaimana saat lo menghadapi kenyataan bahwa nggak semua yang lo inginkan itu bisa lo dapatkan di dunia ini. Gue juga pernah menghadapi hal-hal seperti ini, dan yah, memang rasanya sakit banget. Rasanya ada suatu hal yang hilang dari perasaan lo. Mimpi lo. Harapan lo. Hancur begitu saja. Sedih? Wajar. Tapi jangan terlalu lama. Karena bagaimanapun juga, the life must go on . Hidup lo akan terus berjalan, nggak peduli bagaimanapun keadaan lo. Yaah, beginilah hidup. Tapi lo harus belajar untuk menerima kenyataan dan merelakan impian lo itu. Nggak, gue nggak nyuruh lo nyerah. Inget, menerima kenyataan dengan menyerah itu...

Saat hati mulai memilih.

Entahlah. Aku mungkin belum berdamai dengan masa lalu. Aku mencoba melupakan, tapi tetap saja kenangan manis itu selalu tersimpan di sudut hati. Menanti saat yang tepat untuk terbayang dalam angan semu. Aku tak mengerti apa cinta itu. Yang kutahu, ia datang tiba-tiba, mengetuk pintu hati. Membawa sebentuk wajah dan sebuah nama. Dan berusaha menghempaskan sesuatu bernama logika. Aku bertempur dengan hati dan pikiranku. Dia datang secara perlahan dan mulai membuatku terlena. Terbuai angan yang mungkin tak bisa kugapai. Keinginan suci, menggenapkan setengah agama. Hanya mampu kusimpan rapat semua rasa ini. Aku mungkin belum berani menciptakan kesempatan. Masih kupasrahkan janji kehidupan pada aliran takdirNya. Entah dengannya, angan semu jauh sebelum ini, atau lainnya. #aku senang, hari Jum'at ini :')

Random tengah malam.

It's hurt. I definitely hurt myself.  If love is a sweet torment, I can't be sure whether I'm enjoying it or not. Maybe I must let my logic leads my acts, not my heart does. I've cried some times for this case. And I don't want this friendship to be broken, just because of me. I never want it happen. I don't know which one is better: loving you or leaving you. I must ask God; He's all The Knower. But I know, one song remains in my mind, in every single 'this' case. "But it's time to face the truth. I will never be with you..." _James Blunt - You're Beautiful_

Sebuah Surat untuk Calon Suamiku

Kamu, ya, kamu. Aku menyukaimu. Karena parasmu, pribadimu, agamamu. Semoga karena Allah juga. Hai, kamu. Aku belum berani mengatakannya langsung padamu. Tahukah kamu, betapa sulit menahan rasa ini saat bersamamu? Berusaha agar kau tidak mengetahui ini. Kamu, aku tak ingin kau ternoda karenaku. Karenanya, aku menjaga perasaan ini rapat dalam hati. Biar saja aku menikmati suka dukanya. Karena aku belum layak menjadi milikmu. Kamu, akhir-akhir ini aku berharap pada Tuhan. Berharap semoga pemilik tulang rusukku adalah kamu. Mungkin salah caraku memintanya. Tapi aku hanya ingin kita dapat bersama dalam ridha-Nya. Mungkin, suatu saat nanti, aku akan mengatakan perasaanku. Aku harus bersiap dahulu menjadi calon pendamping yang baik, Sebelum nantinya aku (meminta untuk) menjadi pendampingmu. Meski aku tak berani berharap semoga kau menyukaiku. Kamu, orang yang (saat ini) kuharapkan menjadi suamiku, Jika ternyata perasaanmu tidak sama den...